Konsep dan Teori Gender

7 Sep

KONSEP DAN TEORI GENDER

(Oleh Orinton Purba)

Konsep Gender dan Seks

Gender berasal dari bahasa latin “genus”, berarti tipe atau jenis. Gender merupakan ciri-ciri peran dan tanggung jawab yang dibebankan pada perempuan dan laki-laki, yang ditentukan secara sosial dan bukan berasal dari pemberian Tuhan atau kodrat. Konsep gender adalah hasil konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia, yang sifatnya tidak tetap, berubah-ubah serta dapat dialihkan dan dipertukarkan menurut waktu, tempat dan budaya setempat dari satu jenis kelamin kepada jenis kelamin lainnya. Konsep gender juga termasuk karakteristik atau ciri-ciri laki-laki dan perempuan yang diciptakan oleh keluarga dan atau masyarakat, yang dipengaruhi oleh budaya dan interpretasi agama. Misalnya, secara umum, pekerjaan memasak, mengurus anak, mencuci selalu disebutkan hanya sebagai pekerjaan perempuan. Pandangan seperti ini merupakan ciptaan masyarakat dari budaya tertentu, padahal pekerjaan tersebut dapat juga dipertukarkan dengan laki-laki atau dapat dikerjakan oleh laki-laki. Namun pandangan ini bisa saja berbeda dari satu budaya dengan budaya yang lain.  Karakteristik atau ciri-ciri ini menciptakan pembedaan antara laki-laki dan perempuan yang disebut pembedaan gender. Ini sering mengakibatkan peran sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Peran ini dipelajari dan berubah-ubah dari waktu ke waktu dan dari suatu tempat ke tempat lain. Peran sosial atau yang sering disebut peran gender ini berpengaruh terhadap pola relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki yang sering disebut sebagai relasi gender.

Konsep gender ini sering disamakan dengan konseps seks atau jenis kelamin. Gender dan seks dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Artinya jika berbicara mengenai gender tidak terlepas dari jenis kelamin. Namun kedua konsep ini sangat berbeda makna dan pengertiannya. Konsep jenis kelamin adalah kenyataan secara biologis yang membedakan antara manusia dimana lebih diidentikkan dengan perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan.

Untuk lebih jelas perbedaan gender dan jenis kelamin adalah sebagai berikut:

Gender Jenis Kelamin
    Menyangkut pembedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan sebagai hasil kesepakatan atau hasil bentukan masyarakat Menyangkut perbedaan organ biologis laki-laki dan perempuan, khususnya pada bagian-bagian alat reproduksi.
      Peran sosial dapat berubah:Peran istri sebagai ibu rumah tangga dapat berubah menjadi pencari nafkah, disamping menjadi istri juga Peran reproduksi tidak dapat berubah:Sekali menjadi perempuan dan mempunyai rahim, maka selamanya akan menjadi perempuan dan sebaliknya.
        Peran sosial dapat dipertukarkan:Untuk saat-saat tertentu, bisa saja suami tidak memiliki pekerjaan sehingga tinggal di rumah mengurus rumah tangga, sementara istri bertukar peran untuk bekerja mencari nafkah bahkan sampai ke luar negeri. Peran reproduksi tidak dapat dipertukarkan: tidak mungkin laki-laki melahirkan dan perempuan membuahi.
          Peran sosial bergantung pada masa dan keadaan Peran reproduksi kesehatan berlaku sepanjang masa
            Peran sosial bergantung pada budaya masyarakat tertentu. Peran reproduksi kesehatan berlaku di mana saja.
              Peran sosial berbeda antara satu kelas/strata sosial dengan strata lainnya. Peran reproduksi kesehatan berlaku bagi semua kelas/strata sosial.
              1. 7.
              Peran sosial bukan kodrat Tuhan tetapi buatan manusia Peran reproduksi berasal dari Tuhan atau kodrat.

              Teori Gender

              Menurut teori nurture adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakekatnya adalah bentukan masyarakat melalui konstruksi sosial budaya, sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Konstruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai proletar.

              Perjuangan untuk permasamaan hak ini dipelopori oleh kaum feminis internasional yang cenderung mengejar kesamaan (sameness) dengan konsep 50:50 (fifty-fifty), konsep yang kemudian dikenal dengan istilah perfect equality (kesamaan sempurna) secara kuantitas. Perjuangan tersebut sulit dicapai karena berbagai hambatan baik dari nilai agama maupun budaya. Berangkat dari kenyataan tersebut, para feminis berjuang dengan menggunakan pendekatan sosial konflik, yaitu konsep yang diilhami Karl Marc (1818-1883) dan Machiavvelli (1469-1527) dilanjutkan oleh David Lockwood (1957) dengan tetap menerapkan konsep dialektika.

              Karena itu aliran nurture melahirkan paham sosial konflik yang banyak dianut masyarakat sosialis komunis yang menghilangkan strata penduduk (egalitarian). Paham sosial konflik memperjuangkan kesamaan proporsional (perfect equality) dalam segala aktivitas masyarakat seperti di DPR, Militer, Manajer, Menteri, Gubernur, Pilot, dan pimpinan partai politik.

              Menurut teori nature, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah kodrati, sehingga harus diterima apa adanya. Perbedaan biologis itu memberikan indikasi dan implikasi bahwa diantara kedua jenis tersebut memiliki peran dan tugas yang berbeda. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada tugas yang memang berbeda dan tidak dapat dipertukarkan secara kodrat alamiahnya. Dalam proses pengembangannya banyak kaum perempuan sadar terhadapa beberapa kelemahan teori nurture di atas. Lalu beralih ke teori natura. Pendekatan nurture dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat.

              Perbedaan biologis diyakini memiliki pengaruh pada peran yang bersifat naluri (instinct). Perjuangan kelas tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan karena manusia memerlukan kemitraan dan kerjasama secara strukturaal dan fungsional . Manusia baik perempuan maupun laki-laki memiliki perbedaan kodrat sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam kehidupan sosial ada pembagian tugas (division labor) begitupula dalam kehidupan keluarga. Harus ada kesepakatan antara suami istri, siapa yang menjadi kepala keluarga dan siapa yang menjadi ibu rumah tangga. Dalam organisasi sosial juga dikenal ada pimpinan dan ada bawahan (anggota) yang masing-masing mempunyai tugas, fungsi dan kewajiban yang berbeda dlam mencapai tugas, fungsi dan kewajiban yang berbeda dalam mencapai tujuan.

              Talcott Parson (1902-1979) dan Parson & Bales berpendapat bahwa keluarga adalah sebagai unit sosial yang memberikan perbedaan peran suami dan istri untuk saling melengkapi dan saling membantu satu sama lain. Karena itu peranan keluarga semakin penting dalam masyarakat modern terutama dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Keharmonisan hidup hanya dapat diciptakan bila terjadi pembagian peran dan tugas yang serasi antara perempuan dan laki-laki, dan hal ini dimulai sejak dini melalui Pola Pendidikan dan pengsuhan anak dalam keluarga. Aliran ini melahirkan paham struktural fungsional yang menerima perbedaan peran, asal dilakukan secara demokratis dan dilandasi oleh kesempatan (komitmen) dalam kehidupan masyarakat.

              Teori Equilibrium: Teori keseimbangan (Equilibrium)menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. Pandangan ini tidak mempertentangkan antara kaum perempuan dan laki-laki, karena keduanya harus bekerjasama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka dalam setiap kebijakan dan strategi pembangunan agar diperhitungkan kepentingan dan peran perempuan dan laki-laki secara seimbang. Hubungan diantara kedua elemen tersebut bukan saling bertentangan tetapi hubungan komplementer guna saling melengkapi satu sama lain.

              R.H. Tawney menyebutkan bahwa keragaman peran apakah karena faktor biologis, etnis, aspirasi, minat, pilihan, atau budaya pada hakekatnya adalah realita kehidupan manusia. Hubungan laki-laki dan perempuan bukan dilandasi dikotomis, bukan pula struktural fungsional, tetapi lebih dilandasi kebutuhan kebersamaan guna membangun kemitraan yang harmonis, karena setiap pihak punya kelebihansekaligus kekurangan, kekuatan sekaligus kelemahan yang perrlu diisi dan dilengkapi pihak lain dalam kerjasama yang setara.

              Teori Struktural-Fungsional. Teori ini muncul di tahun 30-an sebagai kritik terhadap teori evolusi. Teori ini mengemukakan tentang bagaimana memandang masyarakat sebagai sebuah sistim yang saling berkaitan. Teori ini mengkui adanya keanekaragaman dalam kehidupan sosial. Dalam kondisi seperti itu, dibuatlah suatu sistim yang dilandaskan pada konsensus nilai-nilai agar terjasi adanya interrelasi yang demi sesuatu yang dinamakan harmoni, stabilitas dan keseimbangan (equilibrium). Sistem ini mensyaratkan aktor dalam jumlah memadai, sehingga fungsi dan  struktur sesorang dalam sistim menentukan tercapainya stabilitas atau harmoni tersebur. Ini berlaku untuk sistim sosial: agama, pendidikan, struktur politik, sampai rumah tangga, dalam hal ini termasuk mengenai gender. Sosialisasi fungsi struktur tersebut dilakukan dengan institusionalisasi, melalui norma-norma yang disosialisasikan.

              Ketidakadilan dan Diskriminasi Gender

              Ketidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi kesenjangan dan ketimpangan atau tidak adil akibat dari sistem struktur sosial dimana baik perempuan dan laki-laki menjadi korban dari sistem tersebut.  Ketidakadilan gender terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradapan manusia dalam berbagai bentuk yang bukan hanya menimpa perempuan saja tetapi juga dialami oleh laki-laki. Meskipun secara keseluruhan ketidakadilan gender dalam berbagai kehidupan lebih banyak dialami oleh kaum perempuan, namun ketidakadilan gender itu berdampak pula terhadap laki-laki. Bentuk-bentuk manifestasi ketidakadilan gender akibat diskriminasi gender itu mencakup:

              1. 1. Marjinalisasi atau Peminggiran

              Proses marjinalisasi atau pemiskinan yang merupakan proses, sikap, perilaku masyarakat maupun kebijakan negara yang berakibat pada penyisihan/ pemiskinan bagi perempuan atau laki-laki.

              Contoh-contoh marjinalisasi:

              • Banyak pekerja perempuan kurang dipromosikan menjadi kepala cabang atau kepala bagian dalam posisi birokrat. Begitu pula politisi perempuan kurang mendapat porsi dan pengkuan yang sama dibandingkan dengan politisi laki-laki.
              • peluang untuk menjadi pimpinan dilingkungan TNI (jenderal) lebih banyak diberikan kepada laki-laki daripada perempuan.
              • Sebaaliknya banyak lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi laki-laki seperti industri garmen dan industri rokok karena anggapan bahwa mereka kurang teliti melakukan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran.
              1. 2. Subordinasi
              • Proses sub-ordinasi adalah suatu keyakinan bahwa satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya, sehingga ada jenis kelamin yang merasa dinomorduakan atau kurang didengarkan suaranya, bahkan cenderung dieksploitasi tenaganya.
              • sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran permepuan lebih rendah daripada laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsir keagamaan maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan kaum perempuan pada tatanan sub-ordinat.

              Contoh-contoh sub-ordinasi

              1. Banyak  pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak’.’sekretaris”, atau “perawat’,  yang dinilai lebih rendah dibanding dengan pekerjaan laki-laki seperti direktur, dosen diperguruan tinggi, dokter, dan tentara. Hal tersebut berpengaruh pada pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan.
              2. Perempuan dipinggirkan dari beberapa jenis kegiatan baik dibanding pertanian dan industri serta bidang tenaga kerja yang lebih banyak dimiliki oleh laki-laki.
              3. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang pada umumnya dikerjakan oleh tenaga laki-laki.
              4. Apabila seorang istri yang hendak mengikuti tugas belajar atau hendak bepergian keluar negeri, ia harus mendapat izin dari suami. Tetapi apabila suami yang akan pergi ia bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus mendapat izin dari istri. Kondisi semacam itu telah menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting sehingga jika karena kemampuannya ia bisa menempati posisi penting sebagai pimpinan, bawahannya yang berjenis laki-laki seringkali merasa tertekan.
              5. Sebagai seorang laki-laki menjadi bawahan seorang perempuan, maka pola pikir seorang laki-laki masih memandang bos perempuan tadi sebagai mahluk lemah dan lebih rendah. Sehingga laki bawahan merasa “kurang laki-laki”. Inilah bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan namun yang dampaknya mengenai laki-laki.

              Pandangan Stereotipe

              • Stereotipe adalah suatu pelabelan yang sering kali bersifat negatif secara umum terhadap salah satu jenis kelamin tertentu.
              • Stereotipe selalu melahirkan ketidakadilan dan diskriminasi yang bersumber dari pandangan gender.

              Contoh-contoh Stereotipe

              • Tugas dan fungsi serta  peran perempuan hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan kerumahtanggaan atau tugas domestik.
              • Label kaum perempuan  sebagai” ibu rumah tangga” sangat merugikan mereka jika hendak aktif dalam kegiatan laki-laki seperti kegiatan politik, bisnis maupun birokrasi.
              • Sementara label laki-laki sebagai pencari nafkah utama (a main breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sambilan saja (a secondary breadwinner)sehingga kurang dihargai.u kegiatan di masyarakat bahkan ditingkat pemerintahan dan negara hanyalah merupakan ”perpanjangan” dari peran domestiknya. Misalnya karena perempuan dianggap pandai merayu maka ia dianggap lebih pas bekerja dibagian penjualan.
              • Apabila laki-laki marah, maka dianggap tegas tetapi apabila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standar penilaian terhadap perempuan dan laki-laki berbeda namun standar nilai tersebut lebih banyak merugikan perempuan.
              1. 3. Kekerasan
              • Kekerasan adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Oleh kaena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetepi juga yang bersifat non fisik seperti pelecehan seksual, ancaman dan paksaan sehingga secara emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan merasa terusik batinnya.
              • Pelaku kekerasaan yang bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat individual seperti di dalam rumah tangga sendiri maupun ditempat umum  dan juga di dalam masyarakat dan negara.
              • Berbagai kekerasan terhadap perempuan terjadi sebagai akibat  dari perbedaan peran gender yang tidak seimbang.

              Contoh-contoh kekerasan(fisik  maupun mental psikologis)

              • Istri menghina / mencela kemampuan seksual atau kegagalan karier suami.
              • Perempuan dan anak-anak dijadikan sandera dalam suatu konflik sosial /ethnis atau antar negara.
              • Istri tidak boleh bekerja oleh suami setelah menikah.
              • Istri tidak boleh mengikuti segala macam pelatihan dan kesempatan –kesempatan meningkatkan SDMnya.
              • Istri tidak boleh mengikuti kegiatan sosial diluar rumah.
              • Suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluarannya secara ketat.
              • Orang tua  memukul dan mengahajar anaknya.
              1. 4. Beban Ganda Bagi Perempuan
              • Beban ganda adalah peran dan tanggung jawab seseorang dalam melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari.
              • Beban kerja ganda yang sangat memberatkan seseorang adalah suatu bentu diskriminasi dan ketidakadilan gender. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya, beberapa jenis kegiatan dilakukan oleh laki-laki, dan beberapa yang lain dilakukan oleh perempuan.
              • Beban ganda ini seringkali dipandang dari sudut budaya sebagai bentuk pengabdian dan pengornbanan yang mulia yang nanti di akherat mendapatkan balasan yang setimpal. Namun demikian harus ada suatu batas dari pengorbanan ini, karena pengorbanan yang tanpa batas berarti menjurus kepada ketidakadilan.

              Contoh-contoh beban kerja

              • Berbagai observasi menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga, sehingga bagi mereka yang bekerja dilura rumah, selain bekerja diwilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik. Dengan demikian perempuan melakukan beban ganda yang memberatkan (double burden).
              • Seorang ibu dan anak perempuannya mempunyai tugas untuk menyiapkan makanan dan menyediakannya diatas meja, kemudian merapikan kembali  sampai mencuci piring-piring yang kotor.
              • Seorang bapak dan anak laki-laki setelah selesai makan, mereka akan meninggalkan meja makan tanpa merasa berkewajiban untuk mengangkat piring kotor yang mereka pakai. Apabila yang mencuci isteri, walaupun ia bekerja mencari nafkah keluarga ia tetap menjalankan tugas pelayanan yang dianggap sebagai kewajibannya.

              DAFTAR PUSTAKA

              Canadian International Development Agency (CIDA), 1997. “Guide to Gender-sensitive Indicators .

              Debbie Budlender, Diane Elson, Guy Hewitt and Tanni Mukhopadhyay,2002. Understanding Gender Responsive Budgets.

              Gender, Law, and Policy in ADB Operations: A Tool Kit (2006). Asian Development Bank.

              _____“Kesetaraan dan keadilan Gender dalam Pembangunan Nasional dan Daerah”. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, 2008.

              _____”Harmonisasi Konsep dan Definisi Gender untuk Aplikasi Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan”  Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Jakarta 2008.

              Pusat Kajian Gender Wanita dan Gender Universitas Indonesia, Hak Asasi Perempuan, Yayasan Obor, Jakarta, 2007.

              Rinusu (Ed). Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan di Indonesia: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia dan United National Development Program (UNDP), 2007.

              Leave a Reply

              Fill in your details below or click an icon to log in:

              WordPress.com Logo

              You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

              Twitter picture

              You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

              Facebook photo

              You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

              Google+ photo

              You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

              Connecting to %s

              %d bloggers like this: